Senin, 27 Agustus 2018

Doa penghabisan senja hari


Untuk duka
Untuk lara
Hari ini
Ulurkan Tangan-Mu yang lekat
Basuh tubuhku seluruh

Untuk letih
Untuk perih hari ini
Buka pintu-MU yang dekat
Sandar ragaku teguh

Untuk cinta
Untuk suka hari ini
Isikan hadir-Mu sangat
Pada lembarnya……UTUH

(Smd, Desember 1997)

Testimoni,


Laki-laki itu terlahir sebagai laki-laki, sebuah peta yang jelas terbaca, dari daging di bawah perutnya,  dari teriakan yang membahana, dari api yang gampang tersulut, dari kembang yang  tergenggam di tangan, dari jarak yang ter takluk di langkah

Kalau kau ingin tubuhmu, di mandikan oleh tetes waspanya,bukan kulitnya yang harus kau lukai, torehlah sedikit hatinya,dengan cerita harumu, luruhkan asihnya dengan pinta ibamu …

setidaknya begitu kata-orang-orang

Kalau aku Nanti pulang , Pa



Kalau aku nanti pulang, pa
Ajari aku lagi tentang ketakziman,
Di negeri ini aku menjadi lupa,
Kepada siapa lagi aku harus menundukan
Muka  dan tersenyum
saat berpapasan
sebab kehormatan nampaknya  sudah
di borong habis oleh mereka yang mampu membeli
dengan uang,
dengan baju yang mereka kenakan,
dengan sepatu yang mereka pakai,
dengan kursi yang mereka tempati,

Kalau aku nanti pulang, Pa
Ajari aku lagi tentang satu dua dan tiga
Di sini setiap hari  aku di jejali angka-angka
Dan sibuk menilai  diri dengan perhitungan
Yang mungkin takkan mampu orang beli….

Kalau aku nanti pulang , pa
Ajari aku lagi  tentang  a, be, ce
Disini aku terlalu banyak
Bergumul dengan kata-kata
Yang mungkin takkan mampu lagi orang baca

Kalau  aku  nanti pulang pa,
Kalau kutemukan jalan  Pulang.

(Bandung, Pebruari 2001)